Pages

Jumat, 10 April 2009

Lembaran Berdarah : part 2

Pagi hari yang sejuk menyapa Fals yang sedang duduk di halaman sekolahnya menunggu seseorang. Dari kejahan seseorang berlari menghampiri Fals. Orang itu punya badan subur dan tamangnya sedikit pucat.
"Fals, semalem gue mimpi tentang buku harian tu, gue takut Fals... Jangan-jangan buku itu punya sebah memori mengerikan, dan tanda-tanda itu masuknya ke mimpi gua!!" dengan segera kata-kata Tyro terucap dan seolah menggema ditelinga Fals. Jantungnya berdetak kencang, perasaan yang ganjil terhadap buku harian tua itu mulai tercipta.
Rasa gelisah menylelimuti mereka. Handpone Achi berbunyi disela-sela jam pulang sekolah. Itu dari Mieke.
"Fals, Mieke bilang kita harus ke perpustakaan. Dia merasa dihantui sesuatu!" begitulah ucapan Achi pada ketiga temannya.
Seusai jam sekolah berakhir, mobil Achi melaju cepat menuju Perpustakaan Besar. Mieke sudah menanti dengan cemas.
"Fals, mana buku harian itu?" Tanya Mieke seelah keempat temennya menghampirinya.
Buku harian tua diambil Fals dari tasnya. Tapi aneh! Buku harian tua itu sudah terbuka. Segel kancing yang semula melekat erat sudah terlepas dengan sendirinya. Perpustakaan yang sunyi karena pengunjung mulai pulang, menambah hati mereka gusar.
"Ko...ok... u..da..h kebu...ka?" Nadine berucap lirih.
Tak menjawab. Semuanya diam. Lalu perlahan buku harian itu terbuka, halaman per halaman terlewati dengan rasa yang begitu mengangkan tapi juga penasaran.
"Kosong... tapi terlihat hilang karena terkena...." Achi menghentikan kata-katanya setelah halaman tengah terbuka lebar. Solah terkuak sebuah pintu.
Kelima siswa itu merapatkan tubuhnya mengelilingi buku harian yang mulaii terihat menarik dimata mereka.
Cahaya merah memancar dari lembaran buku harian tersebut. Tak berselang beberapa detik, mereka berlima hilang.....
***
"Fals, kita dimana?" suara-suara bising membuka mata mereka.
"Buku itu Fals... Buku itu yang bawa kita, dan tempat ini, tempat yang ada di mimpi gua!!!" Tyro merapatkan tubuhnya mentaap dalam-dalam keempat temannya.
"Tenang ro, tenang.... kita juga takut ro, gue nggak nyangka kalau kita bisa masuk kedalam buku harian tua itu," Nadine sedikit menguragi rasa takut.
"Ini peperangan!! Lihat, banyak tentara Jepang yang berkeliaran! Sepertinya buku itu tempat...." Fals berbisik.
"Lorong waktu.." lanjut Mieke.
"Fals, kita coba kunjungi tenda itu!!" Tyro mulai menemukan tempat perlindungan bagi dirinya. Yang ada dibenaknya sekarang hanyalah pulang dan melupakan semua kejadian ini.
Mereka berjalan perlahan, mengendap-endap untuk berjaga-jaga. Tenda berwarna putih itu mulai terlihat jelas. Nyata. Sepi.Hening.
Fals melangkah diikuti Mieke dan Achi. Sementara Nadine dan Tyro memilih berada di belakang. Kaki mereka mulai mendekat, lalu melihat tenda itu terbuka. Cahaya merah lentera memancar ke segala penjuru tenda.
"Apa maksud dari buku itu membawa kita?" bisik Achi yang ditujukan pada siapa saja yang mendengarnya.
"Tenanglah... kita pasti tahu," pertanyaan itu dijawab Fals.
"Fals tunggu, coba lo perhatiin letak-letak tanah ini!" Mieke mengejutkan pikiran yang sedang terlintas dibenak teman-temannya.

Tidak ada komentar: