"Ini itu letak dimana perpustakaan Sejarah berdiri. Pohon besar itu masih ada khan?" lanjut Mieke penuh keyakinan.
"Bagaimana dengan mimpi gua yang ketemu sama pejuang...." tanya Tyro sambil menunjuk seseorang yang masuk. Dia sama sekali tidak menyadari kehadiran kelima orang yang terbawa ke masa lalu.
Dengan segera Fals masuk kedalam tenda. Ia yakin bahwa hal yang ditunjukkan buku harian tua.
Achi melihat buku harian yang mirip dengan buku yang membawa mereka ke masa ini. Seseorang sedang menggenggamnya, sangat erat dengan sebuah pena.
Mungkin inilah takdir, takdir yang tak bisa diingkari. Kematian telah tiba diambang pintu. Achi ingin berteriak, menegur laki-laki yang terlihat murung saat seorang pejuang masuk dengan wajah yang penuh rasa dendam sambil mencengkram erat pisau yang sudah terlumuri darah. Tragedi yang tertulis di lembar pertengahan buku harian sudah terungkap. Mereka berlima menyaksikan kejadian tragis yang begitu mengerikan. Pahlawan yang sekarat dengan darah yang keluar dari ubun-ubun kepalanya.
Kejadian itu terasa cepat dan mereka sebagai saksi tak bisa berbuat apa-apa. Karena buku harian tersebut hanya menunjukkan kejadian yang menimpa tuannya..
Fals mendekat pada buku yang masih terkuak lebar, sedikit melirik dan membawa buku penuh cipratan darah kearah teman-temannya. Tepat pada lembaran lembaran itu tertulis,
"Kebencian akan selalu hadir, disela-sela kebaikan. Kebencian membawa kesengsaraan, kematian dan penderitaan. Aku tak mau melihat darah disaat negeriku Merdeka...."
" Fals, kita harus kembali!" ucapan lirih berbisik ditelinga Fals yang termenung.
Buku harian yang digenggam Fals memancarkan sinar kembali. Tubuh mereka lenyap meninggalkan suatu tragedi yang menyisakan tangis.
Suasana kembali cerah. Tak terdengar lagi bunyi tembakan dan senjata-senjata taupun teriakan oran-orang.
"Buku ini telah menunjukkan pada kita, sekarang kita tahu rahasia yang tersembunyi dari Perpustakaan Sejarah,"
"Dan Lembaran Berdarah ini?"
"Kita sembunyikan buku harian ini dibawah tanah. Cukup kita yang tahu!"
"Besok kita temui pemiliknya, agar semuanya bisa selesai tanpa harus menghantui satu orangpun lagi. Cukup cuma Tyro aja yang dihantui," Fals menghakiri suasana yang kini sudah kembali bersahabat.
Achi menuju melaju meninggalkan Perpustakaan besar yang nampaknya semakin tua. Semuanya lega, walaupun kejadian tragis yang mereka saksikan terus membayangi dipikiran mereka masing-masing.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar