Saya membaca buku. Lagi-lagi buku-buku fiksi.
Mungkin saya disuruh nulis lagi, nulis yang serius lagi, semisal
Ada dua orang penulis yang hampir selalu saya beli bukunya.
Sekarang kalau mau beli buku bacaan lebih perhatiin siapa penulisnya ketimbang kaya apa sampulnya. Karena sejatinya, sampul dan judul itu menipu. Sampul bagus, isinya ternyata sebatas roman picisan yang sering terjadi di film-film korea.
Tere Liye.
Pertama kali baca bukunya, adalah novelnya yang berjudul, 'Semoga Bunda disayang Allah' dalam sebuah ebook yang tidak sengaja ditemukan. Kemudian saya mulai membaca novel-novelnya yang lain, 'Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah', 'Sang Penandai', 'Rembulan Tenggelam di Wajahmu', 'Bidadari-Bidadari Surga' dan masih banyak lagi.
Lewat Novel itulah, akhirnya saya berani mengambil resiko mengikuti Lomba Menulis Cerita Remaja Islami tingkat Nasional ketika 5 tahun silam, di bangku SMA selama 2 minggu saja. Kemudian, saya pasti amat sangat menyadari kala itu, saya membuat cerita mengikuti gaya bahasa dan alur sang penulis ini. Alur campuran. Pasti akhirnya balik lagi ke Alur maju. Dan pada akhirnya saya menang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar